Sebelum lebih jauh membahas tentang kelebihan serta kekurangan dari kedua peranti diatas, ada baiknya untuk terlebih dahulu mengenal lebih dalam tentang fungsi dan pengaruhnya pada mesin ketika peranti ini mengalami kerusakan.
Timing belt berbahan dasar rubber atau karet dengan serat nylon atau kawat baja di dalamnya, sementara Timing chain menggunakan material metal baja berbentuk rantai. Dari segi materialnya timing belt berbeda dengan timing chain, namun dari segi fungsi keduanya memiliki kesamaan yakni sebagai peranti penghubung yang menyesuaikan putaran crankshaft (kruk as) dengan Camshaft (nokken as) agar timing/waktu buka tutup katup (klep) tidak saling berbenturan dengan posisi gerak piston di dalam silinder. Jadi bisa dibayangkan kerugian yang dialami mesin sekiranya peranti yang menghubungkan kedua mekanisme ini putus secara tiba-tiba, apalagi jika hal ini terjadi disaat mesin bekerja pada rpm tinggi, selain katup dan piston mengalami kerusakan, bukan tidak mungkin silinder mesin ikut pecah akibat benturan keras yang berulang-ulang kali terjadi didalam silinder mesin. Disamping itu tentunya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk merekondisi mesin akibat kerusakan yang terjadi.
Timing Belt
Diantara kedua jenis peranti ini, timing belt merupakan jenis peranti yang sewaktu-waktu bisa putus tanpa adanya peringatan apapun. Umumnya kerusakan timing belt dipengaruhi oleh faktor usia pemakaian. Selebihnya disebabkan oleh kualitas timing belt itu sendiri (memiliki sifat kadaluwarsa), komponen penunjang disekitar timing belt, dan perlakuan yang salah saat pemasangan. Dibutuhkan perhatian khusus terkait pemasangannya sebab jika terlalu tegang atau kendor akan mempengaruhi daya tahan timing belt saat menjalankan tugasnya. Oleh karena itu pastikan tingkat ketegangannya selalu tepat, yakni tidak terlalu tegang dan juga tidak terlalu kendor. Jika terlalu tegang maka timing belt rentan putus, atau jika tidak putus, suara mesin akan mendengun atau kasar. Sebaliknya, jika terlalu kendor, timing belt berpotensi mengalami slip. Efeknya, tenaga mesin tidak normal atau mesin akan mati secara tiba-tiba.
Hal lain yang perlu dipastikan adalah kondisi timing belt tidak mengalami retak. Jika ditemukan timing belt sudah mengalami retak, segeralah untuk mengganti dengan timing belt yang baru. Selain itu, karena peranti ini terbuat dari bahan karet, pastikan timing belt dalam kondisi bersih dan terhindar dari oli, bensin, solar, dan zat kimia lainnya, sebab beberapa zat kimia tertentu akan menjadikan karet timing belt mengalami getas sehingga mudah untuk putus.
Ancaman buruk yang diakibatkan putusnya timing belt dapat dicegah dengan melakukan pengecekan kondisi timing belt secara berkala dan rutin melakukan penggantian timing belt lebih cepat dari waktu yang direkomendasikan, terutama untuk mesin yang selalu bekerja pada beban ekstrim. Dan perlu diingat ketika melakukan penggantian timing belt, sebab terkadang tidak hanya timing beltnya saja yang harus diganti, namun ada beberapa komponen penunjang disekitar timing belt yang ikut menyertainya dan berpengaruh besar terhadap usia pemakaian timing belt untuk periode berikutnya.
Pada dasarnya teknologi timing belt lahir untuk memenuhi kebutuhan mesin dengan suara yang lebih senyap. Selain itu, bobot mesin secara keseluruhan ikut berkurang karena desain dan kontruksi mesinnya lebih sederhana dibandingkan mesin yang menggunakan timing chain, sehingga selain mesinnya lebih ringan, biaya produksinya juga lebih murah. Alasan tersebut mendasari beberapa produsen otomotif mengaplikasi teknologi timing belt pada mesinnya.
Timing Chain
Keadaan yang jauh berbeda dialami dengan mesin yang menggunakan teknologi timing chain. Peranti yang terbuat dari metal baja dan berbentuk rantai ini didesain dengan tingkat teknologi metalurgi yang tinggi agar tahan panas, tahan gesekan, tidak mengalami perubahan bentuk atau ukuran, lebih kuat dan tidak mudah putus di setiap kondisi pengoperasian mesin.
Teknologi timing chain tidak memiliki batasan usia pemakaian dan dirancang untuk pemakaian yang cukup lama, bahkan untuk selamanya, tanpa perlu melakukan perawatan berkala karena letaknya berada di dalam mesin dan selalu mendapat pelumasan secara terus menerus ( self lubricating ). Selain itu, tingkat ketegangannya dijaga secara otomatis dengan menerapkan self adjusting menggunakan tekanan oli sehingga teknologi ini tidak memerlukan penyetelan untuk selamanya. Sementara untuk masalah kerugian gesekan dan suara yang ditimbulkan diminimalisir dengan menggunakan dimensi rantai yang mungil dikombinasikan dengan rubber shield untuk menekan tingkat kebisingan, disamping sistem pelumasan yang jauh lebih baik tentunya. Intinya, selama rutin mengikuti jadwal penggantian oli mesin dan menjaga kuantitinya dalam mesin, maka selama itu pula timing chain ini awet digunakan tanpa harus melakukan penggantian sekalipun. Faktor durability menjadi pertimbangan utama Suzuki Marine yang sejak awal sudah menerapkan teknologi timing chain di semua tipe atau model Obm 4-tak nya. Dan sejalan dengan kemajuan teknologi timing chain ini...banyak produsen otomotif yang sebelumnya telah meninggalkan teknologi ini, kini kembali diterapkan pada mesinnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar