Jumat, 19 November 2021

Setup Oke = Performa Oke

Parameter umum dalam memilih mesin otomotif salah satunya dipengaruhi oleh besaran Torsi atau Horse Power (HP) yang dihasilkan mesinnya. Torsi adalah kekuatan untuk menarik, mendorong atau menggerakkan sesuatu (benda), sedangkan Horse Power (HP) adalah hitungan seberapa cepat torsi melakukan pekerjaannya. Singkatnya, Torsi adalah akselerasi, sedangkan Horse Power (HP) adalah Kecepatan (Top Speed). Keduanya memiliki korelasi dalam menunjang performa atau unjuk kerja sebuah mesin. Namun, apakah parameter umum diatas berlaku untuk semua jenis mesin otomotif...??? Jawabannya...✋ Tidak semua...!!!

Dalam beberapa kasus, baik itu pengguna motor maupun mobil, torsi atau Horse power (HP) selalu menjadi acuan utama dalam menentukan performa atau unjuk kerja mesin kendaraannya. Namun pada jenis mesin kendaraan laut (Kapal), khususnya Outboard motor atau yang biasa disebut dengan Motor Tempel, keutamaan torsi atau Horse Power (HP) menjadi hal nomor dua.

Mengapa demikian???

Sebesar apapun torsi dan Horse Power (HP) mesinnya, tidak menjamin performa mesinnya ikut menjadi maksimal, jika proses Pemasangan mesin serta Penyesuaian ukuran propeller  pada kapal tidak dilakukan dengan benar dan tepat. Kedua proses ini sangat krusial karena berbanding lurus dengan pencapaian torsi atau Horse Power (HP) mesinnya. Namun ironisnya, tidak sedikit para pengguna mesin outboard keliru dalam menentukan gerak laju kendaraannya, terutama bagi mereka yang mendambakan performa atau tenaga mesin yang kuat, dikerenakan mereka tidak menyadari pentingnya pemahaman yang benar terkait pemasangan mesin serta penyesuaian ukuran propeller yang tepat di kapal.

Masalah diatas menginspirasi tulisan ini dibuat. Tujuannya tidak lain untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai pemasangan mesin serta penyesuaian ukuran propeller yang tepat di kapal, sehingga tidak terjadi kekeliruan dalam menentukan gerak dan laju kendaraan oleh para penggunanya. Selain berpedoman pada teori produsennya, tulisan ini didasari oleh pengalaman kami selama ini dalam memasang mesin outboard Suzuki 4-st.  

Selamat bereksperimen...!!! 😊😊😊


Pemasangan Mesin🔎

Terdapat pelat horizontal yang letaknya persis diatas propeller (baling-baling) pada setiap mesin outboard. Pelat tersebut dikenal dengan sebutan pelat anti kafitasi (anti cavitation plate), bertugas meminimalisir dan mempertahankan air agar tidak pecah atau tidak terjadi kafitasi saat propeller berputar. Hasilnya, air yang berada disekeliling propeller dapat diserap dan dimanfaatkan secara maksimal menjadi tenaga untuk mendorong kapal. Berdasarkan fungsinya, maka disarankan agar posisi plat anti kafitasi tidak lebih tinggi dari dasar kapal dan dapat diposisikan sejajar atau paling rendah 0 - 2,5 cm dari dasar kapal.

Untuk pemasangan single engine, posisi mesin tentunya dipasang tepat ditengah-tengah transom kapal. Sementara Untuk pemasangan multi engine, 2 bahkan 3 (atau lebih) mesin, posisi mesin dipasang secara simetri pada transom kapal dengan jarak minimum antara mesin adalah 70 cm. Selain untuk menghindari mesin tidak saling bertubrukan saat belok, jarak minimum ini juga menjaga agar propeller tiap mesin tidak saling berebut air pada saat berputar.

Selanjutnya, baik single maupun multi engine, tinggi mesin saat terpasang diposisikan agar jarak plat anti kafitasi mesinnya sesuai dengan patokan jarak yang telah dijelaskan diatas.


Penyesuaian Ukuran Propeller🔎

Propeller atau baling-baling pada sebuah mesin outboard umumnya berjumlah 3 blade, bahkan ada yang berjumlah 6 blade,  dan terdapat marking angka yang menjadi ukuran sebuah propeller. Sebagai contoh tertera 3 angka 3x14,5x27R. Angka pertama menerangkan jumlah blade atau daun pada propeller. Angka kedua menerangkan ukuran diameter dalam satuan inchi. Dan Angka ketiga menerangkan ukuran pitch dalam satuan inchi. Terkadang pula hanya tercantum 1 angka yang berarti ukuran pitch, atau 2 angka yang berarti ukuran diameter dan pitch.

Seperti contoh ukuran diatas, maka ukuran pitch pada propeller dapat diartikan, 1 x putaran penuh, propeller telah menempuh jarak 27 inchi. Umumnya, pilihan untuk ukuran pitch propeller bervariasi dan lebih banyak disediakan, ketimbang ukuran diameternya. Alasannya, karena ukuran pitch akan disesuaikan dengan rekomended operating range mesinnya. Sementara, perubahan 1” angka pitch akan berpengaruh pada naik turunnya rpm dikisaran 200-300 rpm.

Jika pada spesifikasi motor tempel Suzuki DF250 tercantum range operasi yang direkomendasi pada 5500-6100 rpm, berarti tenaga maksimum mesin yang tersedia sebesar 250HP akan tercapai pada 6100 rpm. Oleh karena itu, pitch propeller wajib disesuaikan ukurannya agar disaat full throttle opening  atau saat throttle gas terbuka penuh, rpm mesinnya berada dikisaran 5500-6100 rpm, agar rpm mesinnya mendekati titik optimal dan tenaga dari hasil pembakaran (pemakaian bbm) pada range tersebut sudah dapat dipertanggung jawabkan pemakaiannya. 

Bagamana jika rpm nya dibawah operating range??? tentu saja, tenaga maksimumnya tidak tercapai, berdampak pada akselerasi maupun kecepatan mesin yang berkurang, pemakaian bbm jadi boros, dan jika dipaksa untuk pemakaian jangka panjang, mesinnya rentang mengalami kerusakan. 

Dari keseluruhan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa pemasangan mesin dan penyesuaian ukuran propeller pada mesin outboard sangat jelas relevansinya dengan performa atau unjuk kerja mesinnya. 


"Semoga bermanfaat...!!! 🙏🙏🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar