Kebanyakan dari pengguna Outboard Motors atau Motor Tempel mengaku sering menyepelekan, bahkan jarang memperhatikan, apalagi untuk sekedar merawat kabel kelistrikan mesinnya. Padahal, performa dan kinerja mesinnya sangat bergantung pada kemampuan kebel dalam menjalankan fungsinya sebagai piranti penghantar daya listrik yang dibutuhkan mesin.
Ini mengindikasikan bahwa meskipun kabel kelistrikan termasuk komponen yang tidak bergerak dan jarang diganti namun bukan berarti kabel kelistrikan tidak memerlukan perhatian dan perawatan.
Kondisi lingkungan menjadi faktor utama yang mendasari alasan pentingnya melakukan perawatan kabel kelistrikan pada mesin outboard. Jika dibandingkan lingkungan yang ada di darat, kondisi lingkungan di laut lebih bervariasi karena dipengaruhi oleh banyak variabel, seperti : perubahan suhu, kelembaban udara, pengaruh udara laut, resiko terkena air laut, dll. Kondisi tersebut bersifat merusak fungsi kabel karena kabel lebih rentan mengalami oksidasi dan korosi.
Faktor lainnya karena dipengaruhi oleh usia atau umur pemakaian. Kendati kabel-kabel kelistrikan mesin outboard menggunakan material isolasi atau selubung pelindung kabel yang tahan terhadap suhu tinggi, tahan terhadap kebakaran (fire resistance), serta memilikii kekuatan mekanis yang tinggi, namun seiring berjalannya waktu yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan panas mesin, maka lambat laun isolasi kabel akan menjadi getas, keras, rapuh, dan mengalami kerusakan.
Efek Oksidasi & Korosi Pada Kabel
Indikasi terjadinya oksidasi dan korosi pada kabel kelistrikan dapat dideteksi dengan mata telanjang. Biasanya, tembaga pada terminal soket atau konektor kabel mengalami penumpukan kerak yang dikuti dengan berubahnya warna tembaga menjadi hijau, putih, atau hitam. kerak yang menempel apabila dibiarkan akan merusak lapisan tembaga karena menjadi berkarat, lama kelamaan bagian tembaga akan termakan (korosi) yang pada akhirnya akan rapuh dan rusak.
Yang lebih berbahayanya lagi, tumpukan kerak pada bidang kontak kabel akan menimbulkan hambatan atau resistansi yang tinggi sehingga menyebabkan beban arus listrik menjadi bertambah. Kondisi ini memaksa serabut kawat penghantar didalam kabel mengalirkan beban arus listrik diluar batas kemampuan daya hantarnya sehingga mengakibatkan kabel mengalami panas, lama kelamaan isolasi kabel akan meleleh atau terbakar, dan berujung pada terjadinya hubungan singkat atau korsleting.
Selain bahaya korsleting, hambatan atau resistansi yang diakibatkan timbunan kerak juga berdampak pada terganggunya proses transfer arus atau tegangan ke seluruh rangkaian kelistrikan yang ada di mesin. Terlebih lagi jika mesin tersebut sudah mengaplikasi sistem injeksi-EFI yang jaringan kelistrikannya menggunakan banyak sensor untuk memonitor kondisi mesin dan sebuah unit kontrol elektronik atau biasa disebut ECM/ECU yang bertugas menghitung jumlah bahan bakar yang dibutuhkan mesin. Kesalahan sensor dalam memberikan input signal atau pelaporan ke ECM sering disebabkan karena konektor penghubung kabel sensor mengalami oksidasi atau korosi. Kondisi tersebut akan menciptakan resistansi yang tinggi sehingga mempengaruhi nilai tegangan atau signal voltase yang seharusnya terkirim ataupun yang terbaca oleh ECM. Akibatnya, ECM akan mengeluarkan perintah yang salah dalam memberikan sinyal ke komponen pendukung yang terintegrasi di dalam otak ECM, seperti : kesalahan dalam mengatur volume bensin yang disemprotkan injector (penyebab bbm boros), salah dalam membaca suhu mesin (penyebab overheating), salah dalam mengatur posisi timing pengapian (penyebab mesin ngancing), dsb. Jika hal ini dibiarkan terus terjadi, maka selain dapat merusak ECM dan sistim kelistrikan lainnya, kondisi ini juga sangat berbahaya karena berpotensi merusak komponen mesin itu sendiri.
Merawat Kabel Kelistrikan
Merawat kabel kelistrikan mesin tidaklah sulit, bahkan terbilang cukup mudah. Langkah awal yang sebaiknya dilakukan adalah memeriksa kondisi aki mesin, atau level air aki untuk mesin yang menggunakan aki basah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan suplai arus listrik yang dibutuhkan mesin dapat bekerja dengan baik dan tidak mengalami masalah. Jika posisi air aki dibawah batas, segera tambahkan air aki hingga mencapai batas paling atas atau level air yang direkomendasikan. Dan sebelum dipasang, pastikan kedua kutub aki dan skun kabel aki terhindar dari oksidasi atau karat dengan cara membersihkannya dengan amplas halus. Tujuannya agar arus listrik lancar sekaligus memperkecil terjadinya hambatan listrik yang berpotensi menghasilkan panas.
Selanjutnya, periksa kondisi kabel yang ada di mesin dari terlepas, terjepit, luka, atau rusak. Jika terjadi kerusakan, untuk mengatasinya disarankan agar tidak menyambung kabel karena dapat mengakibatkan kebocoran arus listrik dan memicu terjadinya korsleting. Jadi sebaiknya ganti semua kabel sekaligus jika ditemukan ada kabel yang mengalami kerusakan. Akan tetapi meskipun tidak disarankan, terkadang kita terjebak dalam situasi dimana kabel yang putus dipaksakan untuk disambung, dan jika memang itu sifatnya terpaksa, maka pastikan kabel yang akan dipakai untuk menyambung memiliki spesifikasi, ukuran diameter dan panjang kabel yang sama. Selanjutnya, pastikan pula bahwa kabel sudah tersambung dengan baik dan benar sebelum menutupinya dengan isolasi yang kuat.
Yang terakhir, Periksa kondisi kontak terminal didalam soket dengan cara melepas semua soket sambungan kabel yang ada dimesin. Apabila ditemukan kontak terminal mengalami oksidasi atau karat maka bersihkan kontak terminal hingga terlihat lapisan logamnya dengan cara menyemprotkan cairan pembersih karat, bisa juga dengan menggunakan sikat kawat atau juga dengan amplas halus.
Semoga bermanfaat....!!!🙏🙏🙏
Tidak ada komentar:
Posting Komentar